Miniatur Photography, merupakan salah satu trik editing dalam dunia fotografi, biasanya trik ini menggunakan software Photo Shop. Caranya cukup sederhana, yaitu dengan memotong gambar dan menempelkannya pada gambar lain. Hanya saja butuh kesabaran ekstra karena harus menyesuaikan warna dari 2 gambar atau lebih yang ditempelkan... Penasaran? Tutorial yang bisa diikuti bisa dicari di Youtube. Coba saja mencarinya dengan kata kunci "miniatur photography tutorial". Selamat mencoba...
Home
Posts filed under
Belajar
Showing posts with label Belajar. Show all posts
Showing posts with label Belajar. Show all posts
Sunday, 2 October 2016
Muharram, Sejarah dan Keutamaannya
Pertama kali yang perlu penulis sampaikan kepada para pembaca adalah tahun pertama Hijriah dimulai pada hari Jumat, 1 Muharram yang bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622 M.
![]() |
| Memahami Bulan Muharram Sebagai Tahun Baru Hijriah |
1. Sejarah Penentuan Tahun Baru Hijriah
sejarah digunakannya sistem perhitungan tahun Islam bermula sejak kejadian di masa Umar bin Al-Khattab r.a. Salah satu riwayat menyebutkan yaitu ketika khalifah mendapat surat balasan yang mengkritik bahwa suratnya terdahulu dikirim tanpa angka tahun. Beliau lalu bermusyawarah dengan para shahabat dan singkat kata, mereka pun berijma’ untuk menjadikan momentum tahun di mana terjadi peristiwa hijrah Nabi saw. sebagai awal mula perhitungan tahun dalam Islam.
Sedangkan sistem kalender qamariyah berdasarkan peredaran bulan konon sudah dikenal oleh bangsa Arab sejak lama. Demikian juga nama-nama bulannya serta jumlahnya yang 12 bulan dalam setahun. Bahkan mereka sudah menggunakan bulan Muharram sebagai bulan pertama dan Dzulhijjah sebagai bulan ke-12 sebelum masa kenabian.
Sehingga yang dijadikan titik acuan hanyalah tahun dimana terjadi peristiwa hijrah Nabi saw.. Bukan bulan dimana peristiwa hijrahnya terjadi. Sebab menurut riwayat, beliau dan Abu Bakar r.a.hijrah ke Madinah pada bulan Sya’ban, atau bulan Rabiul Awwal menurut pendapat yang lain, tapi yang pasti bukan di bulan Muharram. Namun bulan pertama dalam kalender Islam tetap bulan Muharram.
2. Alasan Muharram Dijadikan Bulan Pertama
Penting untuk dicatat disini adalah pilihan para shahabat menjadikan peristiwa hijrah nabi sebagai titik tolak awal perhitungan kalender Islam. Mengapa bukan berdasarkan tahun kelahiran Nabi saw.? Mengapa bukan berdasarkan tahun beliau diangkat menjadi Nabi? Mengapa bukan berdasarkan tahun Al-Qur’an turun pertama kali? Mengapa bukan berdasarkan tahun terjadinya perang Badar? Mengapa bukan berdasarkan tahun terjadinya pembebasan kota Mekkah? Mengapa bukan berdasarkan tahun terjadinya haji Wada’ (perpisahan) dan mengapa bukan berdasarkan tahun meninggalnya Rasulullah saw.?
Jawabannya adalah karena peristiwa hijrah itu menjadi momentum di mana umat Islam secara resmi menjadi sebuah badan hukum yang berdaulat, diakui keberadaannya secara hukum international. Sejak peristiwa hijrah itulah umat Islam punya sistem undang-undang formal, punya pemerintahan resmi dan punya jati diri sebagai sebuah negara yang berdaulat. Sejak itu hukum Islam tegak dan legitimate, bukan aturan liar tanpa dasar hukum. Dan sejak itulah hukum qishash dan hudud seperti memotong tangan pencuri, merajam/mencambuk pezina, menyalib pembuat huru-hara dan sebagainya mulai berlaku. Dan sejak itulah umat Islam bisa duduk sejajar dengan negara/kerajaan lain dalam percaturan dunia international.
Kondisi itu terus berlangsung hingga umat Islam melewati masa-masa yang panjang setelah wafatnya beliau, masa khualfaur-rasyidin, masa khilafah Bani Umayyah, Bani Abbasiyah dan masa khilafah Bani Utsmani. Wilayahnya membentang dari Maroko hingga Marauke di mana separuh bulatan muka bumi menjadi sebuah negeri yang satu, daulah Islamiyah.
Hingga kemudian semua itu berakhir pada abad 20 Masehi (abad 14 hijriyah) dengan ditumbangkannya khilafah Turki Utsmani pada tahun 1924 oleh Musthapa Kemal Ataturk. Seorangpemimpin boneka yang bekerja di bawah perintah zionis Yahudi dan konspirasi jahat international. Seiring dengan tumbangnya khilafah Islamiyah terakir, umat Islam yang berjumlah 1,5 milyar di muka bumi ini tidak lagi punya satu pemimpin, tidak punya badan hukum dan tidak punya khilafah. Semua hidup di bawah tekanan pemerintahan boneka masing-masing yang kecil, lemah, miskin, tertekan dan tertindas di bawah hegemoni mantan penjajahnya.
Bersamaan dengan itu, isi perut bumi mereka serta kekayaan alam lainnya dikuras habis oleh para musuhnya tanpa setitik pun perlawanan yang berarti. Hukum dan undang-undang yang berlaku tidak lain adalah produk sampah para penjajah. Kurikulum pendidikannya telah melahirkan anak-anakgenerasi yang mising link serta jauh dari atmosfir Islam.
Semua ini adalah tantangan berat yang harus dilalui oleh kita yang hidup di masa sekarang ini. Dan sejak meninggalkan tahun 1400 hijryah, sudah dicanangkan oleh Rabithah Alam Islami bahwa abad ke-15 hijriyah adalah abad kebangkitan Islam. Masuk tahun baru ini, kita sudah melewati kuartal pertama dari abad 15 hijriyah. Sudahkah tanda-tanda kebangkitan itu nampak? Kita bisa menilainya masing-masing.
3. Tentang Merayakan Tahun Baru Hijriah
Secara fiqih Islami, tidak ada perintah secara khusus dari Rasulullah saw. untuk melakukan perayaan penyambutan tahun baru secara ritual. Bukankah penetapan sistem kalender Islam baru saja dilakukan di masa khalifah Umar bin Al-Khattab r.a.? Selain itu memang kami tidak mendapati nashyang sharih tentang ritual khusus penyambutan tahun baru, apalagi dengan i’tikaf, shalat qiyamullailatau zikir-zikir tertentu. Kalau pun ada, hadits-haditsnya sangat lemah bahkan sampai kepada derajatmaudhu’ dan mungkar hadits.
Namun bukan berarti kegiatan penyambutan tahun baru itu menjadi terlarang dilakukan. Sebab selama tidak ada nash yang mengharamkan secara langsung dan kegiatan itu tidak terkait langsung dengan ibadah ritual yang diada-adakan, hukumnya hala-halal saja. Terutama bila kegiatan itu memang punya manfaat besar baik secara dakwah Islam maupun syiarnya. Yang penting jangan sampai menimbulkan salah interpretasi bahwa tiap malam satu Muharram disunnahkan qiyamullailatau beribadah ritual secara khusus di masjid. Sebab hal itu akan menimbulkan kerancuan (fitnah) dikemudian hari yang harus diantisipasi.
4. Kemuliaan Muharram
- Salah kaprah dalam penyambutan Tahun Baru Hijriah masih banyak terjadi. Karena bulan Muharram adalah bulan suci bagi kaum muslimin, maka sebagian orang menjadikannya sebagai hari besar yang harus diperingati. Sehingga sebagian kaum muslimin melakukan berbagai ritual untuk memperingati dan merayakannya. Ada yang lebih parah dari itu bahwa sebagian mereka melakukan acara-acara yang pada hakekatnya adalah syirik.Seperti yang terjadi di daerah Yogyakarta, budaya larung sesaji bulan Muharram, di Surakarta ada arak-arakan kerbau yang bernama Kiai Slamet, di Gunung Lawu ada ritual khusus yang dilakukan oleh sebagian orang di malam tanggal satu Muharram atau lebih dikenal dengan Malam Satu Sura, dan masih ada segudang contoh yang lain. Ini membuktikan betapa tingginya tingkat kebodohan umat, sehingga mereka terjerumus ke dalam jurang kemusyrikan yang begitu dalam.
- Sikap yang tepat adalah menyambut tahun baru Hijriah ini dengan meningkatkan ketaatan kepada Allah, mengintrospeksi diri, melakukan pembenahan dan pembaruan terhapap amal-amal perbuatan kita yang rusak, dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia; terutama keluarga, mulai istri, anak-anak, dan karib kerabat. Karena seseorang akan dimintai pertanggung jawaban nanti hari kiamat tentang mereka. Allah berfirman, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (At-Tahrim: 6). Selain itu, hendaknya kita melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepada kita dengan sebaik-baiknya, karena nanti di hari kiamat, anggota tubuh seseorang akan berposisi sebagai musuh baginya. Yaitu ketika Allah menutup mulut seorang hamba lalu tangan dan kaki dan anggota tubuh lainnya berbicara mengungkapkan apa yang pernah dilakukannya. Allah berfirman, “Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka, ‘Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?’ Kulit mereka menjawab. ‘Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata’, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan’. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Tuhanmu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Ash-Shaffat: 20-23). Pada Al-Qur’an terjemahan Depag diterangkan bahwa mereka itu memperbuat dosa dengan terang-terangan karena mereka menyangka bahwa Allah tidak mengetahui perbuatan mereka dan mereka tidak mengetahui bahwa pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka akan menjadi saksi di akhirat kelak atas perbuatan mereka.
- Hakekat Tahun baru. ketika satu tahun berlalu, berarti satu tahun lebih dekat dengan kuburan. . Hendaknya kita berupaya menjadikan setiap tahun lebih baik daripada tahun yang sebelumnya. Pada hakekatnya, satu tahun berlalu, berarti satu tahun lebih dekat dengan kuburan. Maka, hendaknya kita mempergunakan sisa waktu dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan ketaatan kepada Allah. Sesungguhnya dunia tidak akan sejahtera kecuali dengan tegaknya agama. Kemuliaan, keagungan, dan ketinggian derajat tidak akan diperoleh kecuali bagi orang yang tunduk, patuh, dan berendah diri di hadapan Allah. Keamanan serta kedamaian tidak akan terwujud kecuali dengan mengikuti konsep para Rasulullah saw..
- Puasa Sunnah Muharram. Nabi saw. menganjurkan umatnya untuk mengerjakan puasa pada bulan Muharram yang mulia, yaitu puasa sunah pada tanggal sepuluhnya. Dan, puasa ini adalah puasa yang paling afdhal setelah puasa Ramadhan. Kemudian, untuk menyelisihi kaum Yahudi yang juga berpuasa di tanggal sepuluh bulan tersebut, maka Nabi Shallallaahu Alaihi Wasallam mengisyaratkan untuk berpuasa pula pada tanggal sembilannya. Dan, puasa sunah bulan Muharram, akan menghapus dosa-dosa setahun sebelumnya. Rasulullah saw. bersabda: وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ Puasa hari ‘Asyura, sungguh aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim no. 1975).
Sumber: jadipintar.com
The Milky Sky on The Masjid
"The milky sky of Masjid Jami' Gontor Campus 2", tidak sedikit yang mengira bahwa foto ini adalah editan, dan tidak sedikit juga yang percaya bahwa foto ini adalah asli. Kira-kira foto ini asli atau editan???
hehehe, jawabannya adalah foto editan, tapi yang membuat saya sangat senang adalah ketika foto ini saya share di grup (facebook) "belajar fotografi" saya mendapatkan 1200-an like, whahaha, angka yang fantastis, padahal banyak orang bersusah payah untuk dapat like berjumlah ratusan. hehehe.
"It's the wonderful experience that i got in my life."
Intinya jangan pernah minder hanya karena merasa masih newbie (orang awam yang baru belajar). Justru semakin banyak orang hebat sekitar kita bakal menambah motivasi untuk menjadi lebih baik.
Kalau kata bijak yang saya buat "Lebih baik menjadi orang yang bodoh diantara orang hebat daripada menjadi orang hebat diantara orang yang bodoh, jangan sampai menjadi katak dalam tempurung"...
hehehe, jawabannya adalah foto editan, tapi yang membuat saya sangat senang adalah ketika foto ini saya share di grup (facebook) "belajar fotografi" saya mendapatkan 1200-an like, whahaha, angka yang fantastis, padahal banyak orang bersusah payah untuk dapat like berjumlah ratusan. hehehe.
"It's the wonderful experience that i got in my life."
Intinya jangan pernah minder hanya karena merasa masih newbie (orang awam yang baru belajar). Justru semakin banyak orang hebat sekitar kita bakal menambah motivasi untuk menjadi lebih baik.
Kalau kata bijak yang saya buat "Lebih baik menjadi orang yang bodoh diantara orang hebat daripada menjadi orang hebat diantara orang yang bodoh, jangan sampai menjadi katak dalam tempurung"...
Friday, 30 September 2016
Lirik Ya Asyiqol Musthofa & Artinya
Ya Asyiqol Musthofa * Absyir Binailil Muna
Wahai Perindu Nabi * Bergembiralah dengan memperoleh harapan
Qod Roqoka susshofa * Watoba Wafdul Hana
telah bersinar piala bukit shofa * dan bahagia golongan yang mempunyai nasab rendah
Nuurul Jamaali Badaa * Min Wajhi Syamsil Hudaa
cahaya keindahan muncul * dari wajah matahari petunjuk
Wahai Perindu Nabi * Bergembiralah dengan memperoleh harapan
Qod Roqoka susshofa * Watoba Wafdul Hana
telah bersinar piala bukit shofa * dan bahagia golongan yang mempunyai nasab rendah
Nuurul Jamaali Badaa * Min Wajhi Syamsil Hudaa
cahaya keindahan muncul * dari wajah matahari petunjuk
man fadluhu 'ammanaa
yaitu orang yang keutamaannya meliputi kita
Thoohalladzii billiqoo * qod faazalammartaqoo
Nabi yang dengan pertemuan * ia mendapat keberuntungan saat naik ('isra')
waafi dzurool irtiqoo min robbihi qod danaa
dan dipuncak ia dekat di sisi Tuhannya
Lirik Lagu Tum Hi Ho & Artinya
Music: Mithoon
Singer: Arijit Singh
Hum tere bin ab reh nahin sakte
Tere bina kyaa wajood meraa (2x)
Aku tanpami kini tak dapat hidup
tanpamu apalah artinya keberadaanku
Tujh se judaa gar ho jaayenge
To khud se hi ho jaayenge judaa
jika aku terpisah darimu
maka aku juga akan terpisah dari diriku
Kyonki tum hi ho
Ab tum hi ho
Zindagi, ab tum hi ho
Chain bhi, meraa dard bhi
Meri aashiqui ab tum hi ho
Karena hanya kamu
sekarang hanya kamu
kehidupanku kini hanya kamu seorang
ketenanganku juga rasa sakitku
cintaku sekarang adalah dirimu seorang
Teraa meraa rishtaa hai kaisaa
Ik pal door gawaaraa nahi
Tere liye har roz hain jeete
Tujh ko diyaa meraa waqt sabhi
Koi lamhaa meraa naa ho tere binaa
Har saans pe naam teraa
Bagaimana hubungan kita ini
aku tidak bisa jauh darimu walaupun untuk sesaat
untukmu setiap hari aku bertahan hidup
semua waktuku hanya untukmu
Tiada sedikitpun waktuku tanpa kehadiranmu
namamu ada di setiap hembusan nafasku
Kyonki tum hi ho
Ab tum hi ho
Zindagi, ab tum hi ho
Chain bhi, meraa dard bhi
Meri aashiqui ab tum hi ho
Karena hanya kamu
sekarang hanya kamu
kehidupanku kini hanya kamu seorang
ketenanganku juga rasa sakitku
cintaku sekarang adalah dirimu seorang
Tum Hi ho….Tum hi ho……
dirimu… dirimu….
Tere liye hi jiyaa main
Khud ko jo yoon de diya hai
Teri wafaa ne mujh ko sambhaalaa
Saare ghamon ko dil se nikaala
Tere saath mera hai naseeb juDaa
Tujhe paa ke adhoora naa raha
Hidupku hanya untukmu
aku telah memberikan hidupku untukmu
kesetiaanmulah yang telah menjagaku
menghapus seluruh duka dari dalam hatiku
bersamamu nasibku terjalin
setelah mendapatkanmu hidupku sempurna
Kyonki tum hi ho
Ab tum hi ho
Zindagi, ab tum hi ho
Chain bhi, meraa dard bhi
Meri aashiqui ab tum hi ho
Karena hanya kamu
sekarang hanya kamu
kehidupanku kini hanya kamu seorang
ketenanganku juga rasa sakitku
cintaku sekarang adalah dirimu seorang
Benarkah Jumlah Ayat Al-Quran adalah 6666 Ayat?
Banyak berita yang beredar di kalangan masyarakat bahwasannya jumlah ayat dalam Al-Qur'an adalah 6.666 ayat. Berikut penjelasannya yang bersumber dari http://lajnah.kemenag.go.id/artikel/134-mengenal-jumlah-hitungan-ayat-dalam-al-qur-an
سبب اختلاف السبب في عدد الآي أن النبي صلى الله عليه وسلمكان يقف على رؤوس الآي للتوقيف فغذا علم محلها وصل للتمام فيحسب السامع حينئذ أنها ليست فاصلة
Dalam studi ulumul-Qur’an yang membahas disiplin ini lebih lanjut didapati beberapa riwayat yang menginformasikan tentang pembahasan terkait. Kajian yang secara khusus membahas hal ini setidaknya dapat dibaca dalam kitab al-Bayan fi ‘Addi Ayil Qur’an karya Abu Amr ad-Dani (w. 444 H/1052 M), Nadzimatuz-Zahr karya as-Syatibi (w. 590 H/1194 M), al-Faraidul Hisan fi ‘Addi Ayil-Qur’an karya Abdul Fatah Abdul-Gani al-Qadhi (w. 1403 H/1982 M), dan al-Muharrar al-Wajiz fi ‘Addi Ayil Kitabil-Aziz karya Abdur-Razaq Ali Ibrahim Musa yang terinspirasi dari karya gurunya Muhammad al-Mutawalli (w. 1313 H/1895 M).
Abdur-Razaq Ali Ibrahim Musa dalam al-Muharrar al-Wajiz fi ‘Addi Ayil Kitabil-Aziz (h. 47) menginformasikan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang jumlah ayat Al-Qur’an. Menurut pendapat terkuat kriteria dan jumlah pengelompokan ini terkait erat dengan enam copy naskah Usmaniyah yang didistribusikan ke beberapa garnisun wilayah Islam waktu itu (al-Amshar). Oleh karena itu, hitungan Madinah ada dua (Madani Awal dan Akhir), Mekah, Syam, Kufah, dan Basrah, demikian menurut ad-Dani. Sementara al-Ja’biri menambahkan satu lokasi lagi, yakni hitungan dari daerah Hims. Dari kronologi ini kemudian para ulama setelahnya menggenapkannya menjadi 7 riwayat yang memberikan keterangan tentang jumlah ayat dalam Al-Qur’an.[4]
- Al-Madani (Madinah), hitungan jumlah ayat dalam kelompok ini dibagi lagi menjadi dua, yaitu Madani Awal danMadani Akhir.
- Madani Awal disandarkan pada riwayat Abu Amr ad-Dani dengan jalur dari Imam Nafi dari riwayat Abu Ja’far bin Yazid al-Qa’qa’dari Imam Syaibah bin Naskah, seorang anak laki-laki dari mantan budaknya Ummu Salamah (istri Rasulullah), jumlahnya adalah 6217 ayat;
- Madani Akhir disandarkan pada riwayat Abu Amr ad-Dani dengan jalur dari Imam Nafi dari riwayat Ismail bin Ja’far dari Sulaiman bin Jammaz dari Abu Ja’far dan Syaibah bin Nashah secara marfu dari keduanya, jumlah ayatnya adalah 6214 ayat;
- Al-Makki (Mekah) disandarkan pada riwayat Abu Amr ad-Dani dengan jalur Abdullah bin Katsir al-Makki dari Mujahid bin Jubair dari Ibnu Abbas dari Ubay bin Ka’ab, 6219 dan 6210 ayat. Jumlah 6210 adalah pendapat Ubay bin Ka’ab sendiri, mayoritas orang-orang Mekah memakai hitungan 6219, demikian komentar ad-Dani.
- As-Syami (Syria) disandarkan dari riwayat Abu Amr ad-Dani dengan jalur Yahya bin Harits ad-Dimari dari al-Akhfasy dari Ibnu Dzakwan dan al-Halwani dari Hisyam, Ibnu Dzakwan dan Hisyam dari Abu Ayyub bin Tamim al-Qari dari Abdullah bin Amir al-Yahshibi dari Abu Darda, jumlah ayatnya adalah 6226 ayat;
- Al-Kufi (Kufah, Irak) disandarkan dari riwayat Abu Amr ad-Dani dengan jalur Hamzah bin Hubaib bin Ziyat dari Ibnu Abu Laila dari Abu Abdirrahman bin Habib as-Sulami dari Ali bin Abi Talib, jumlah ayatnya adalah 6236ayat;
- Al-Bashri (Basrah, Irak) disandarkan dari riwayat Abu Amr ad-Dani dengan jalur ‘Ashim al-Jahdari dan Atha bin Yasar, jumlah ayatnya adalah 6204 ayat;
- Al-Himsyi, menurut al-Mutawalli disandarkan dari riwayat Syuraikh bin Yazid al-Himsyi al-Hadrami. Sementara menurut Abdul Ali Mas’ul hitungan ini disandarakan kepada Khalid al-Ma’dan seorang tabi’in senior dari Syam. Meskipun terjadi perbedaan sumber, keduanya sepakat jumlah ayatnya adalah 6232 ayat.
Tabel Jumlah Ayat dan Rawinya
No
|
Jumlah Ayat
|
Kategorisasi
|
Rawi
|
1
|
6217
|
Madani Awal
|
Nafi dari riwayat Abu Ja’far bin Yazid al-Qa’qa’
|
6214
|
Madani Akhir
|
Nafi dari riwayat Ismail bin Ja’far
| |
2
|
6219
|
Makki
|
Abdullah bin Katsir al-Makki dari Mujahid bin Jubair
|
3
|
6225
|
Syami
|
Abu Ayyub bin Tamim al-Qari dari Abdullah bin Amir al-Yahshibi
|
4
|
6236
|
Kufi
|
Hamzah bin Hubaib bin Ziyat dari Ibnu Abu Laila dari Abu Abdirrahman bin Habib as-Sulami
|
5
|
6205
|
Bashri
|
‘Ashim al-Jahdari dan Atha bin Yasar
|
6
|
6232
|
Himsy
|
Khalid al-Ma’dan
|
Dari beberapa riwayat di atas, yang sampai saat ini riil banyak dipakai dalam penerbitan Al-Qur’an ada dua. Mazhab al-Kuffiyun yang diriwayatkan Hamzah bin Hubaib bin Ziyat dari Ibnu Abu Laila dari Abu Abdirrahman bin Habib as-Sulami dari Ali bin Abi Talib dengan jumlah ayat 6236 ayat dan Madani Awal disandarkan pada riwayat Imam Nafi dari riwayat Abu Ja’far bin Yazid al-Qa’qa’, 6217 ayat. Bertolak dari keadaan sekarang yang hanya menyisakan dua mazhab dari tujuh riwayat, menurut ad-Dani pada masanya (setidaknya dalam kisaran abad ke-5 hijriah) kelima mazhab hitungan ayat di atas saat itu semuanya berlaku di kawasan bersangkutan.[1]
Dua mazhab ‘addul-ayi yang masih berkembang dapat dilihat sebagai berikut. Mazhab pertama dipakai oleh mayoritas negara-negara muslim termasuk Mushaf Madinah terbitan Mujamma’ Malik Fahd dan Mushaf Standar terbitan Indonesia. Mazhab kedua, setidaknya telah dipakai oleh Mushaf al-Jamahiriyah dengan riwayat Qalun ‘an Nafi yang diterbitkan oleh Libya. Selebihnya untuk masa sekarang tampaknya sudah tidak ada yang menerapkannya lagi, dan hanya terdokumentasi dalam literatur-literatur klasik ulumul-Qur’an, khususnya yang membahas addul-ayi.
Bagaimana dengan jumlah 6.666 ayat?
Menurut sebuah sumber, angka ini berasal dari keterangan Syekh Nawawi al-Bantani (w. 1316 H/1897 M) dalam kitabnya Nihayatuz-Zain fi Irsyadil-Mubtadiin.[2] Menurut al-Bantani, bilangan ayat Al-Qur’an itu 6666 ayat, yaitu 1000 ayat di dalamnya tentang perintah, 1000 ayat tentang larangan, 1000 ayat tentang janji, 1000 tentang ancaman, 1000 ayat tentang kisah-kisah dan kabar-kabar, 1000 ayat tentang ‘ibrah dan tamsil, 500 ayat tentang halal dan haram, 100 tentang nasikh dan mansukh, dan 66 ayat tentang du’a, istighfar dan dzikir.[3]
Sumber lain dengan jumlah yang sama tetapi dengan penjelasan berbeda adalah pandangan az-Zuhaily dalam at-Tafsir al-Munir fil-‘Aqidah wasy-Syari’ah wal-Manhaj,(2003, jilid 1/45), “membenarkan” jumlah ayat Al-Qur’an dalam(tariqah) hitungan al-Kufiyyun adalah 6236 ayat, namun demikian ia juga menyebutkan menurut (tariqah) hitungan yang lain berjumlah 6.666 ayat. Perhitungan ini sepertinya didasarkan pada kalkulasi pertimbangan isi keseluruhan ayat dalam Al-Qur’an. Dalam pandangan ini, ayat-ayat Al-Qur’an dapat diklasifikasi dan dijumlahkan sebagai berikut; al-amr (perintah) 1000 ayat, an-nahy (larangan) 1000 ayat, al-wa’d (janji) 1000 ayat, al-wa’id (ancaman) 1000 ayat, al-qasas wal-akhbar (kisah-kisah dan informasi) 1000 ayat, al-ibr wal-amtsal (pelajaran dan perumpamaan) 1000 ayat, al-haram wal halal (halal dan haram) 500 ayat, ad-du’a (doa) 100 ayat, dan an-nasikh wal-mansukh 66 ayat.[4]
Dari beberapa informasi dan telaahan di atas, dapat disimpulkan sementara terkait jumlah bilangan ayat dalam Al-Qur’an. Pertama, jumlah 6.666 adalah jumlah hitungan ayat Al-Qur’an berdasarkan kandungan isi ayat dari sebagian ulama, bukan hitungan dalam pengertian menghitung satu per satu ayat dalam perspektif ilmu addul-ayi.Kedua, jumlah 6.236 bukanlah jumlah satu-satunya ayat Al-Qur’an yang “paling benar”, namun hal itu adalah pilihan riwayat.
Sebab jumlah hitungan ini sangat terkait erat dengan periwayatan dan qira’ah. Seperti yang terjadi di Mushaf al-Jamahiriyah Libya yang lebih memilih menggunakan qira’ah Qalun dari Imam Nafi dengan hitungan ayat Madani awal (6217 ayat).
Dengan demikian, terkait kepastian jumlah ayat-ayat dalam Al-Qur’an tidak ada yang “paling benar” dan “paling salah”. Selama hal itu argumentatif dan didasarkan pada periwayatan dan pilihan yang bertanggung jawab, semua dapat dimungkinkan, meskipun tidak dapat disangkal sebuah pendapat barangkali “lemah” (marjuh) secara metodologis. Diskusi terkait khilafiyah jumlah ayat tidak selamanya harus bersepakat dalam kesamaan ataupun saling mencaci dalam ketidaktahuan! Wallahu a’lam.
[2] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azim, Bairut: Darul-Fikr, 1997, cet. Ke-1, h. 14.
[3] Az-Zarkasyi, al-Burhan fi Ulumil-Qur’an, al-Qahirah: Darul-Hadis, 2006, h. 176. Fasilah adalah akhir ayat, sama halnya qafiyah dalam sajak.
[4] Abdur-Razaq Ali Ibrahim Musa, al-Muharrar al-Wajiz fi ‘Addi Ayil Kitabil-Aziz, Riyad: Maktabah al-Ma’arif, 1988, h. 47-48.
[5] Ad-Dani tahqiq Ganim al-Hamd, al-Bayan fi ‘Addi Ayil-Qur’an, Kuwait: Markaz al-Maktutat al-Wtsaa’iq , 1994, h. 80
[6] http://kampoengsantri.wordpress.com/2012/08/10/berapakah-jumlah-ayat-dalam-al-quran-3/ di unduh tanggal 14 januari 2013.
[7] Abu Abdul Mu’ti Muhammad bin Umar bin Ali Nawawi al-Jawi, Nihayatuz-Zain fi Irsyadil Mutbadi’in, Jakarta: al-Haramain, 2005, cet. ke-1, h. 34.
Berikut Hadist-Hadist Palsu Seputar Ramadhan
Bulan Ramadhan merupakan bulan suci umat Islam. Kaum muslimin pun banyak yang sudah berbenah untuk menyambut kedatangan bulan yang penuh berkah tersebut. Ada yang sudah warming up dengan melaksakan puasa sunnah sejak bulan Rajab. Ada pula yang mulai membiasakan bersedekah dan sholat malam. Tetapi ada pula yang hanya “sekedar” membersihkan atau mengecat ulang masjid dan rumah-rumah mereka. Adapun bagi para muballigh sudah pasti akan mempersiapkan diri dengan membaca kembali buku-buku tentang puasa dan keutamaan bulan Ramadhan. Diantaranya dengan menghafal hadits-hadits yang berkenaan dengan bulan tersebut.
Akan tetapi diantara hadits-hadits yang beredar pada bulan tersebut ternyata tidak semua bisa dipertanggungjawabkan keshahihannya. Ada beberapa hadits yang diragukan, bahkan ada pula yang tidak diketahui darimana asalnya. Namun anehnya hadits-hadits tersebut sangat akrab di telinga kaum muslimin di setiap Ramadhan. Tulisan ini akan mengupas hadits apa saja yang bukan berasal dari Nabi alias hadits palsu.
Hadits pertama:
مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيْرَانِ
“Barangsiapa senang dengan masuknya (datangnya) bulan Ramadhan, maka Allah mengharamkan jasadnya bagi neraka.”
Takhrij:
Dalam software al-maktabah al-syamilah saya tidak menemukan hadits ini dalam kitab-kitab hadits manapun. Dari segi matan juga bisa dilihat bahwa hadits ini termasuk hadits palsu karena adanya imbalan pahala yang luarbiasa (diharamkan dari api neraka) untuk amalan yang sangat ringan (hanya senang dengan datangnya Ramadhan).
Dalam istilah ilmu hadits dikenal istilah la yu’rafu lahu ashlun atau la ashla lahu (tidak diketahui sumber asalnya) dan hadits ini termasuk ke dalam kategori ini.
Hadits kedua:
الْجَنَّةُ مُشْتَاقَةٌ إِلَى أَرْبَعَةِ نَفَرٍ: تَالِيْ اْلقُرْآنِ، وَحَافِظِ اللِّسَانِ وَمُطْعِمِ الْجِيْعَانِ وَ الصَّائِمِيْنَ فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ
“Surga itu rindu kepada empat golongan, yaitu pembaca al-Qur’an, penjaga lisan, pemberi makan orang yang kelaparan dan orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan.”
Takhrij:
Sama dengan “hadits” pertama, “hadits” dengan redaksi seperti ini tidak saya temukan dial-maktabah al-syamilah. “Hadits” ini kemungkinan adalah cerita dari tukang pembuat cerita karena dimuat dalam buku Raunaq al-Majalis yang notabene adalah buku yang berisi tentang hikayat atau dongeng. Akan tetapi keempat golongan yang disebutkan di atas adalah benar-benar ahli surga meskipun kita tidak tahu apakah surga rindu kepada mereka atau tidak. Jadi hadits ini adalah hadits palsu.
Hadits ketiga:
إِذَا كَانَ آخِرُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ بَكَتْ السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ وَالْمَلاَئِكَةُ مُصِيْبَةٌ ِلأُمَّةِ مُحَمَّدٍ ، قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَيُّ مُصِيْبَةٍ هِيَ؟ قَالَ : ذِهَابُ رَمَضَانَ فَإِنَّ الدَّعَوَاتِ فِيْهِ مُسْتَجَابَةٌ، وَالصَّدَقَاتُ مَقْبُوْلَةٌ وَالْحَسَنَاتِ مُضَاعَفَةٌ، وَاْلعَذَابَ مَدْفُوْعٌ
“Jika tiba akhir malam bulan Ramadhan, maka langit, bumi dan malaikat menangisi musibah yang menimpa umat Muhammad SAW. Ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, musibah apakah itu? Beliau menjawab: Perginya bulan Ramadhan, karena sesungguhnya do’a-do’a pada bulan ini dikabulkan, sedekah-sedekah diterima, kebaikan-kebaikan dilipatgandakan dan siksa ditolak.”
Takhrij:
Sebagaimana dua “hadits” di atas, redaksi “hadits” seperti ini juga tidak saya temukan dalam al-maktabah al-syamilah. Sehingga “hadits” ini termasuk ke dalam kategori hadits palsu karena tidak diketahui sumbernya.
Hadits keempat:
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ اْلكِرَامَ اْلكَاتِبِيْنَ فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ أَنْ يَكْتُبُوْا الْحَسَنَاتِ ِلأُمَّةِ مُحَمَّدٍ وَلاَ يَكْتُبُوْا عَلَيْهِمُ السَّيِّئَاتِ وَيُذْهِبُ عَنْهُمْ ذُنُوْبَهُمُ الْمَاضِيَةَ
“Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruh para malaikat pencatat amal di bulan Ramadhan agar mereka mencatat kebaikan-kebaikan umat Muhammad dan tidak mencatat keburukan-keburukan mereka serta menghilangkan dosa-dosa mereka yang telah lalu.”
Takhrij:
Sama dengan “hadits” sebelumnya, “hadits” dengan redaksi seperti ini juga tidak saya temukan di dalam al-maktabah al-syamilah. Sehingga “hadits” ini termasuk ke dalam kategori hadits palsu karena tidak diketahui sumbernya.
Hadits kelima:
لَوْ تَعْلَمُ أُمَّتِيْ مَا فِيْ رَمَضَانَ لَتَمَّنَوْا أَنْ تَكُوْنَ السَّنَةُ كُلُّهَا رَمَضَانَ
“Seandainya umatku mengetahui apa (pahala) yang ada pada bulan Ramadhan, pastilah mereka mengharapkan agar sepanjang tahun adalah Ramadhan.”
Takhrij:
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibn Khuzaimah dalam al-Shahih, Abu Ya’la dalam al-Musnad,al-Asbahani dalam al-Targhib, semuanya melalui Jarir ibn Ayyub dari al-Sya’bi dari Nafi’ ibn Buraidah dari Ibn Mas’ud. Ibn Khhuzaimah juga meriwayatkan dari sahabat Abu Mas’ud al-Ghaffari, akan tetapi beliau meriwayatkannya melalui Jarir ibn Ayyub. Al-Baihaqi dalam al-Syu’abmeriwayatkan hadits ini melalui thariq (jalur) Ibn Khuzaimah ini. Al-Thabarani juga meriwayatkan hadits ini dari Abu Mas’ud al-Ghaffari dalam sanadnya terdapat al-Misbah ibn Yastam, seorang yang dha’if menurut al-Haitsami.
Hadits ini dihukumi palsu oleh Ibn Jauzi dalam kitab al-Maudhu’at dengan alas an bahwa dalam sanad hadits tersebut terdapat perawi yang dituduh pendusta, yaitu Jarir ibn Ayyub. Akan tetapi al-Suyuti dalam kitab al-La’ali menolak hukum ini dengan mengatakan bahwa hadits ini juga diriwayatkan melalui jalan lain tanpa melalui Jarir yaitu dari sahabat Abu Syarik alGhaffari. Namun al-Syaukani dalam kitab al-Fawa’id menolak bantahan al-Suyuti dan tetap menguatkan pandangan Ibn al-Jauzi, yaitu palsu. Beliau berkata: Sesungguhnya hadits yang palsu itu tidak akan keluar dari kedudukannya yang palsu meski perawi-perawi meriwayatkannya. Alasan kedua beliau adalah ciri-ciri hadits palsu nampak jelas pada hadits ini.
Demikian lima hadits diantara sekian hadits seputar ramadhan yang sama sekali tidak diketahui sumbernya darimana. Sebenarnya ada beberapa hadits lain yang palsu akan tetapi karena keterbatasan tempat maka saya hanya menampilkan lima hadits saja. Barangkali pada lain kesempatan hadits-hadits tersebut dapat saya utarakan.
Setelah kita mengetahui derajat hadits-hadits di atas sudah semestinya kita tidak lagi memakainya sebagai hujjah dan tidak menyampaikannya lagi di pengajian atau majlis taklim. Meskipun arti dan kandungannya baik tetapi kita tidak bisa mengatakan ini berasal dari Nabi. Karena itu artinya kita telah berbohong atas nama Nabi. Mengapa untuk berdakwah kita mesti berbohong? Mengapa untuk mengajak orang kepada kebaikan mesti dengan ketidakjujuran? Bukankah masih banyak hadits lain yang sudah jelas shahih? Rasulullah sangat mengancam orang yang berbohong atas nama nabi:
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا ، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ.
“Barangsiapa yang berbohong atas namaku maka hendaklah ia menempati tempatnya di neraka”
Demikianlah, mudah-mudahan kita akan lebih teliti lagi dalam menyampaikan sebuah hadits agar kita tidak termasuk penghuni neraka. Amin ya mujibas sâ’ailîn.
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)
Labels
Sosial Media
Paling Dibaca
-
Dunia blogging merupakan dunia yang selalul mengikuti zaman. Artinya akan selalu ada perkembangan di dalamnya. Guna menarik minat para pe...
-
"Takraw is Not Only a Fight, It's an Art" di Gontor, para santrinya tidak hanya diajarkan untuk pintar mengaji, "Go...
-
Ya Asyiqol Musthofa * Absyir Binailil Muna Wahai Perindu Nabi * Bergembiralah dengan memperole...
-
Masjid Jami' Gontor Kampus 2 di waktu senja, selalu nampak elegant. Terlebih pada pertengahan bulan di tiap bulan Hijriah. Awan m...
-
Majunya dunia teknologi saat ini tidak bisa terbendung. Setiap lini kehidupan tidak luput dari genggaman teknologi itu sendiri. Mulai dari ...
-
Pertama kali yang perlu penulis sampaikan kepada para pembaca adalah tahun pertama Hijriah dimulai pada hari Jumat, 1 Muharram yang ber...
-
Miniatur Photography, merupakan salah satu trik editing dalam dunia fotografi, biasanya trik ini menggunakan software Photo Shop. Caranya c...
-
2014 lalu, Gunung Kelud meletupkan avu vulkanis hingga ke daerah-daerah lain. Begitu juga Ponorogo yang terkena dampak dari abu tersebut. ...
-
Di atas PMDG hanya Allah di bawah PMDG hanya tanah. Jasad melekat di bumi, tetapi jiwa berhubungan langsung dengan Yang di langit, di ...
-
Banyak berita yang beredar di kalangan masyarakat bahwasannya jumlah ayat dalam Al-Qur'an adalah 6.666 ayat. Berikut penjelasannya yan...
Kategori
Contact Form
About Me
Powered by Blogger.










